20 Mei 2008

She Used To Be My Only Enemy

Aaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrrrrrgggggggggggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!
Selalu.
Selalu.
Selalu.
Buat apa sih cape-cape ngelahirin anak kalo udah gedenya cuma buat dijadiin boneka aja? Yang seenak udel dipermainkan? Yang dituntut terus untuk memenuhi semua kemauannya tanpa bisa memahami kemampuan anaknya. Dan kalo udah ga sesuai dengan yang diinginkan, CUT!!!! Serba di-cut. Asik ya? Enak banget tuh bisa semena-mena kaya begitu. Brengsek memang! Meledak aja sekalian. Biar pada tau kalo si anak itu sebenarnya udah sangat tertekan. Kalo lama-lama terus kaya gini, ga ada perkembangan, bisa-bisa jiwa si anak ini keganggu loh.
Apa-apa disalahin ke anak itu. Seakan-akan hal yg anak itu buat amat sangat bermasalah sampe-sampe kalo dimarahin seakan-akan si anak itu udah ngilangin duit 2 milyar. Padahal kenyataannya dari masalah itu cuma hal yang bener-bener kecil banget. Bete abis.. Dan anak itu ngerasa, cuma ke anak itu aja si 'penciptanya' itu begitu. Aneh sekali orang itu, seakan-akan karena dirinyalah maka orang itu menjadi 'pencipta' si anak yang fungsinya untuk diatur-atur sesuai kemauan dia tapi belom tentu sesuai sama kemampuan gw. Sekali lagi, brengsekk!
Hufh.
Kenapa di sekeliling anak itu begitu dipenuhi orang-orang yang sangat egois?
Karma kah?
Hufh..
*cerita lengkap di next post.. gw lagi sibuk.. sibuk molor.. hehe
*nite2

16 Mei 2008

Today's Highlights

  1. Dari tadi bangun tidur pagi-pagi lutut kiri gw uda ngilu-ngilu ga jelas. Walhasil seharian ini gw jalan agak pincang-pincang menyedihkan gitu. Untung pas mau ke kampus dikasi bokap bawa si livmatic, so, kaki kiri gw bisa beristirahat sementara. Dan bluwek pasti senang sekali karna bensinnya awet :D
  2. Di kampus, sumpah ini kuliah yang sungguh-sungguh bagi gw ga penting (apa karna gw nya ga ngerti yak?), gw sama anak-anak kelas gw duduknya bagian belakang. As usual kalo lagi kuliah hari jumat.. Sedangkan di depan ditempatin anak kelas laen yang pada semangat banget dengerin dosen. Fyi, kuliah tiap jumat adalah kuliah tentang broadcasting, yang nantinya bakal ada ujian internasional tentang gimana kerja kamera, gimana syarat studio yang baik, gambarin cara kerja transmitter, gimana ini, gimana itu.. Wajar kan kalo gw ga mau ngerti? Uda gitu, kelas gw malah ngerusuh sendiri ngomongin ke dufan Senin besyookkkk.. Yeyeyyeyeyyeyeyeyyyy jadi juga ini akhirnya ke dufan sekelas! Yang bisa ikut banyak pula! Betapa bahagianya saya.. Tadi dosen gw sampe heran gitu sama apa yg diomongin anak-anak kelas gw yg keliatan banget pada heboh. Hal itu dikarenakan kita sama-sama cerita pengalaman naek segala wahana di dupan ituh. Pake diperagain segala pula gayanya pas lagi naek wahana! Gimana ga heboh coba?? :D (maap Pak..)
  3. Pulang kuliah, yang bagi gw cuma buang-buang waktu, bensin, dan duit parkir itu, akhirnya gw bertiga ama elin dindut mampir ke ambass bentar. Niatnya sih pengen cuci mata, eh kesana malah beli dvd. Tapi sangat disayangkan, Ironman-nya (sumpah gw ngebet banget pingin cari ini dvd!) belom ada yg bagus bajakannya.. Hidup Piracy!! (muauahahhahahhahaha)
  4. Trus gw sukses nyampe rumah sebelom magrib, nonton thomas, dan ini sekarang lagi mampir bentar buat posting. Rasanya belakangan ini kalo ga posting sehari tu gimana gitu. Lagian sepertinya ada tim pengamat yg bakal seneng kalo uda tau kegiatan gw tiap ari nya.. Muahahahahahahha ;p Ngaku aja dehhhh.

Uda ah ya.

Hari ini bener-bener super duper biasa banget buat gw.

Eike mau ke depan tv lagi nii.

Yuk ah dada babayy..

15 Mei 2008

From Batavia With Love

....tanpa sadar Tara menghela napas panjang.
Kisah tentang cinta yang tak dapat bersatu selalu membuatnya sedih. Mengapa Tuhan mengizinkan dua anak manusia untuk saling mencintai jika pada akhirnya hanya akan memisahkan mereka? Mengapa cinta bisa menghadirkan begitu banyak kebahagiaan bagi seseorang, sebanyak cinta bisa juga menghadirkan kesedihan bagi orang yang sama? Lalu apakah sebenarnya wajah dari cinta itu sendiri? Kebahagiaan kah? Atau kesedihan?
*****
Ia hanya ingin rasa sakit yang terus menyayat hatinya ini tersembuhkan. Ia hanya ingin rasa pahit yang terus mencekat tenggorokannya ini terhapuskan. Hanya saja ia tak tahu bagaimana melakukannya.
Bagaimana mungkin seorang pria bisa begitu mudah tertipu? Bagaimana mungkin seorang pria bisa begitu mudah memercayai bahwa cintanya telah mengkhianati? Bagaimana mungkin seorang pria bisa begitu mudah memercayai kekasihnya telah menikahi yang lain padahal justru pria itulah yang telah mengkhianati kekasihnya terlebih dahulu?
Hanya pria bodoh yang dapat berperilaku seperti itu.
Dan pria bodoh itu adalah dirinya.
*****
Apa sebenarnya yang diinginkan Tuhan darinya? Tuhan telah membuatnya lahir sebagai anak terbuang tanpa tahu asal usulnya, lalu membuatnya harus berjuang menjalani hidupnya. Tuhan juga telah membuatnya bisa berinteraksi dengan jiwa seseorang yang telah meninggal begitu lama, dan kini lihatlah apa yang dilakukan Tuhan padanya. Tepat saat ia mulai merasa bahagia dengan kehadiran Pieter yang telah membuat kesepiannya menguap, Tuhan justru akan mengambil Pieter darinya untuk selamanya? Adilkah itu?
*****
"Kebahagiaan bukanlah tujuan yang harus kita datangi, Tara, melainkan sebuah perjalanan yang harus kita tempuh di dalam hidup ini. Kalau kamu mengira bahwa kebahagiaan sejati baru bisa kamu raih setelah kamu sampai pada titik itu, kamu salah. Kamu tidak akan pernah mencapai titik itu, tidak seorang pun yang bisa mencapainya karena hidup ini memang sebuah perjalanan. Mungkin kamu mengira kamu telah mencapai titik itu, namun percayalah perasaan itu hanya akan bertahan sebentar saja. Nantinya pasti akan muncul titik-titik lain yang ingin kamu capai. Itu sebabnya jangan pernah mengkondisikan kebahagiaan."
"Mengkondisikan kebahagiaan??"
"Betul. Jangan pernah berkata bahwa kamu baru bisa bahagia jika kamu seperti ini, atau jika kamu seperti itu. Jangan pernah memberikan syarat untuk bisa mendapatkan kebahagiaan, karena kebahagiaan adalah sebuah esensi yang hanya bisa ditentukan oleh diri kita sendiri. Kalau kamu mengira kebahagiaan itu baru bisa kamu dapatkan setelah memperoleh sesuatu atau memiliki seseorang, maka kamu selamanya akan terbelenggu dalam pencarian dari arti kebahagiaan itu. Selamanya, kamu akan terus merasa dirimu tak cukup bahagia."
*****
Kini cahaya kebiruan itu meredup perlahan. Tara membisu dalam seribu rasa yang memenuhi seluruh jiwanya. Selama dua bulan ini ia bagai hidup dalam sebuah rentetan khayalan. Bahkan sampai detik ini pun ia masih sulit untuk dapat sepenuhnya mempercayai apa yang telah terjadi pada dirinya. Semua bagai mimpi. Berinteraksi dengan jiwa seseorang yang telah tiada, jelas bukan sesuatu yang pernah dibayangkannya sebelumnya. Begitu pun saat ini, ketika dilihatnya sinar kebiruan itu mulai meredup perlahan di hadapannya, seakan terbiaskan sinar matahari yang tiba-tiba saja dapat menerobos masuk di celah-celah kerimbunan dedaunan yang melebat di atas sana.
"Selamat jalan, Pieter," bisik Tara.
Tara melangkahkan kedua kakinya meninggalkan tanah perkuburan kecil itu.
Di ujung batas tanah perkuburan itu, ia tertegun sejenak. Langkahnya terhenti. Hening. Hanya keheningan yang hadir di sekelilingnya. Bahkan sedikit pun tak terdengar gemerisik dedaunan walau hanya sekilas saja. Tiba-tiba di bibir Tara tersungging sebuah senyum kecil. Ia baru saja mendengar bisikan Pieter dan Yasmin yang mengatakan bahwa ia akan mendapatkan sebuah hadiah yang akan membuat rasa sepi di dalam hatinya terhapus untuk selamanya. Entah mengapa, ia percaya janji itu.
"Terima kasih," bisik Tara sambil kembali melangkah pergi.
*****
"Akankah kamu melakukannya lagi jika suatu saat nanti kamu harus mencariku karena kita terpisah jauh? Mencariku hingga denyut napasmu yang terakhir?"
"Mengapa berkata demikian?"
Yasmin terdiam. "Hanya perumpamaan."
"Jika demikian, janganlah memberikan perumpamaan yang menyedihkan. Tidakkah kamu yakin bahwa masa depan kita akan bahagia nantinya?"
"Aku hanya takut jika semua ini tidak lebih dari impian belaka."
"Masa depan mungkin hanya sebuah impian dari hari ini. Namun sepanjang apapun hari ini, ia pasti akan berlalu dan berganti menjadi hari esok. Demikian juga dengan mimpi. Sesulit apa pun kita meraihnya, jika berusaha pasti akan berhasil pada akhirnya. Kamu harus percaya itu."
"Aku percaya, kamu akan berusaha mendapatkanku kembali jika suatu saat nanti nasib membuatku terpisah jauh darimu. Bisakah aku mempercayai ini, Pieter?"
"Hingga denyut napasku yang terakhir," angguk Pieter yakin.
Saat itu cinta yang membelenggu hatinya teramat kuat, mengingatkannya akan syair-syair indah yang pernah digoreskan seorang pujangga Inggris dalam salah satu karya sonetanya yang terkenal.
"..I love thee freely, as men strive for Right;
I love thee purely, as they turn from Praise.
I love thee with the passion put to use in my old griefs,
and with my childhood's faith.
I love thee with a love I seemed to lose.
With my lost saints - I love thee with the breath.
Smiles, tears, of all my life! - and, if God choose,
I shall but love thee better after death."
Sonnets from the Portuguesse, bagian XLIII (1850) - Elizabeth Barret Browning
*****
"Aku telah merencanakan semuanya. Kalau aku kembali nanti, aku akan menemui pamanmu untuk memintanya agar mengizinkan kita menikah. Pasti pamanmu akan menolaknya, tapi aku tak akan menyerah begitu saja, tentunya. Aku akan meyakinkan dirinya bahwa aku bersungguh-sungguh dengan niatku itu.
Tak apa jika kita harus menunggu sedikit lebih lama dari yang kita inginkan, tapi percayalah kita berdua pasti akan dapat melakukannya."
"Aku senang mendengar ceritamu, Pieter. Semangatmu...."
Pieter mengerutkan dahinya. "Lalu apa yang membuatmu masih meragukannya?"
Yasmin membalikkan badan, lalu berdiri perlahan. Ia mendekapkan kedua tangannya di dada dan memandang ke pucuk pohon terjauh di atas sana. Betul, apa yang membuatnya ragu?
"Bisakah ini menghilangkan keraguanmu?" bisik Pieter yang telah berdiri di belakangnya.
Yasmin menoleh dan tertegun. Tangan kirinya diraih oleh Pieter, yang kemudian segera menyematkan sebuah cincin emas di jari manisnya. Ia dapat merasakan hatinya melonjak penuh suka cita seketika. Ada kegembiraan yang tak dapat terlukiskan kata-kata disana, dan hanya ia yang dapat memahaminya.
"Cincin ini diberikan oleh almarhum ibuku ketika aku masih kecil dulu. Sejak saat itu, cincin ini selalu tergantung di kalung yang kukenakan. Kini kuberikan cincin ini padamu sebagai pengganti hatiku. Dan berjanjilah kamu akan menjaganya hingga aku kembali nanti."
Yasmin hanya terdiam. Sebutir air mata jatuh terlepas dari matanya.
"Percayalah, Yasmin, aku pasti akan kembali."
Pieter segera merengkuh Yasmin ke dalam pelukannya. Betapa ia tak mengira sama sekali bahwa hatinya bisa mencintai seorang wanita sedalam ini. Nyatanya cinta memang tidak terlihat dengan mata, melainkan hati. Telah begitu banyak kisah cinta tragis yang dikisahkan para pujangga terkenal dunia selama berabad-abad. Namun, untuk kisah cintanya yang satu ini, ia bersumpah akan membuatkan sebuah akhir bahagia. Semua itu hanya karena ia tahu bahwa Yasmin berhak mendapatkannya. Ia bersumpah akan melakukan apa pun untuk membahagiakan gadis mata kenarinya itu.
"Rebahkanlah kepalamu sejenak di dadaku, Yasmin, maka kamu akan tahu bahwa setiap detak jantung ini hanya milikmu seorang."
"Dan setiap desah napasku adalah milikmu, Pieter," desah Yasmin seraya mebaringkan kepala di dada kekasihnya.
"Marilah berjanji bahwa apa pun yang akan terjadi dengan raga kita ini nantinya, tak akan ada satu pun yang dapat menghalangi cinta kita untuk bersatu kembali pada akhirnya."
"Aku berjanji, Pieter. Aku berjanji...."
Kedua bibir mereka bertemu. Bertaut dalam jerat-jerat yang mengikat hasrat mereka dengan erat. Lalu angin pun ikut berbisik lirih ke seluruh penjuru alam, seakan ingin ikut menyebarkan janji sepasang kekasih yang telah terucap itu, seakan ingin menjadi saksi akan awal sebuah cinta yang akan menjadi sebuah keabadian di alam ini.
*****
"Yasmin!! Aku senang kamu bisa datang akhirnya!!" seru Pieter sekeras mungkin.
"Jaga dirimu baik-baik, Pieter. Aku menunggumu!!"
Kapal semakin menjauh. Seribu satu rasa menyesaki benak Pieter saat mendengar teriakan Yasmin. Ingin rasanya meminta Kapten Van Waert merapatkan kembali kapal ke dermaga dan menunda keberangkatan mereka supaya ia bisa turun sejenak dan memeluk erat kekasihnya itu untuk terakhir kalinya sebelum berpisah. Ia sama sekali tak mengira bahwa perpisahan mereka yang hanya untuk beberapa bulan itu akan terasa begitu berat baginya.
Pieter tahu bahwa sebentar lagi jaraknya yang bertambah jauh dari dermaga akan menghapus suara-suara mereka. Untuk yang terakhir kalinya, ia pun berteriak dengan suara lantang.
"AKU AKAN SELALU MENCINTAIMU!!!!"
Lambaian sapu tangan itu tampak semakin mengecil. Dermaga itu pun menjadi seperti garis lurus, dan orang-orang yang berkerumun di atasnya hanya bagai kumpulan titik buram. Pieter menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya, perjalanan pulangnya kali ini justru terasa bagai sedang meninggalkan rumah. Mungkinkah itu karena hatinya kini telah tertinggal di tempat lain?
*****
"Apa aku telah membuatmu susah dengan kisah hidupku itu, Tara?"
"Kisah hidupmu?" Tara menatapnya bingung. Bayangan itu mengangguk. Mata birunya masih terlihat sedih seperti pertama kali Tara melihatnya di penjara bawah tanah museum itu. Kira-kira apa yang telah membuatnya sedih? Kenapa di dalam mimpi-mimpi yang dilihatnya, sepasang mata biru itu tampak begitu hidup, begitu bahagia, terlebih ketika sedang bersama kekasihnya? Apakah sesuatu terjadi pada cinta mereka sehingga mata itu kini tampak begitu sedih?
"Sesuatu memang telah terjadi pada cinta kami."
Kembali bayangan itu dapat membaca semua pertanyaan yang melintas di benak Tara.
"Tapi, bagaimana mungkin? Kalian berdua tampak begitu bahagia. Keluarga kalian memang tidak menyetujui hubungan kalian, tetapi bukankah itu tidak menghalangi cinta kalian berdua? Dalam mimpiku yang terakhir, kulihat kalian saling berjanji untuk menunggu. Apa yang telah terjadi setelah kepergianmu ke Den Haag itu? Apakah Yasmin tidak menunggumu? Bukankah kalian akan segera menikah saat kamu kembali ke Batavia?" Rupanya semua rasa takut Tara telah sirna dan berganti dengan rasa penasaran.
"Mereka telah berbohong. Mereka menipuku."
"Mereka? Siapa mereka?"
"Orang-orang yang tak ingin melihat kami bahagia. Keluargaku, mereka semua tidak ingin cinta kami bersatu. Tak lama setelah aku kembali ke Den Haag, mereka dengan sengaja bersekongkol mengarang cerita bohong itu. Mereka mengatakan bahwa Yasmin telah menikah dengan lelaki lain. Untuk kebohongan itu, aku tak pernah bisa memaafkan mereka...."
"Dan kamu mempercayai itu?!"
"Aku percaya karena, sebagai bukti, mereka memberikanku cincin yang pernah kusematkan di jari manis Yasmin ketika kami akan berpisah. Cincin almarhum ibuku. Tak sedikit pun terbersit dalam hatiku bahwa itu hanya tipu muslihat mereka dengan membuat cincin yang sama persis."
"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"
"Aku marah besar akan pengkhianatan Yasmin. Tanpa pikir panjang aku menikahi Angelina, yang saat itu kebetulan sedang kembali ke Den Haag. Namun perkawinanku itu bagai neraka. Tak sampai satu setengah tahun kemudian, aku bertemu Frederik. Darinya aku tak sengaja mengetahui sebuah kenyataan pahit. Frederik bersumpah bahwa kurang dari setahun yang lalu ia tak sengaja bertemu Yasmin di Batavia. Gadis itu menanyakan diriku yang tak kunjung datang, padahal aku telah berjanji akan kembali dalam waktu enam bulan. Frederik yang merasa heran mengatakan bahwa aku telah menikah dengan Angelina di Den Haag tak lama setelah kembali kesana. Frederik mengira aku telah memberitahukan Yasmin tentang pernikahanku itu. Ia mengira hubungan kami memang telah berakhir. Itu juga sebabnya ia sangat terkejut saat melihat Yasmin menangis pilu mendengar berita tersebut."
"Kamu pasti merasa bersalah sekali."
"Begitu bersalah sehingga aku merasa bagaikan lelaki paling tak berharga di dunia. Dengan mudahnya aku mempercayai ketidaksetiaan Yasmin, padahal kenyataannya justru akulah yang telah mengkhianati dia. Aku lebih dulu menikahi gadis lain."
"Kamu tidak tahu itu."
"Tapi aku seharusnya tahu itu. Aku seharusnya tahu bahwa Yasmin tidak mungkin mengkhianatiku. Aku seharusnya percaya kepada cintanya."
"Lalu apakah kamu pernah bertemu kembali dengannya setelah itu?"
Bayangan itu menggeleng pelan. Sepasang mata birunya makin menggelap. Ada luka yang begitu dalam di sana, sehingga tanpa sadar Tara menggigit bibirnya, ikut merasakan luka itu.
"Secepatnya aku pergi ke Batavia, namun semuanya telah terlambat. Tak lama setelah mendengar aku telah menikah, paman Yasmin mendesaknya untuk menikah. Pamannya juga telah mengetahui pernikahanku. Yasmin tak punya alasan lain untuk menolak. Ia pun menikah dengan lelaki pilihan keluarganya. Ketika melahirkan putra pertamanya, ia meninggal dunia. Kematiannya itu hanya berselang seminggu sebelum aku tiba di sana. Aku berusaha mencari tahu letak makam Yasmin, namun keluarganya tak mengizinkanku datang ke sana. Mereka merahasiakannya dariku, walau aku terus berusaha mencarinya hingga......"
"Hingga?"
"Hingga akhirnya aku meninggal tak lama kemudian."
Tara dapat merasakan hatinya mendingin mendengar keterangan itu. Ragu-ragu ia bertanya, "Bagaimana kamu meninggal? Apa, apa mereka membunuhmu?"
"Tidak. Mereka tidak perlu melakukannya karena aku telah membunuh diriku sendiri pada hari aku tahu Yasmin telah meninggal. Sejak itu aku kehilangan kendali terhadap diriku, terhadap jiwaku. Aku sering mabuk dan berkelahi dengan pribumi mana pun yang kutemui di jalan. Bagiku mereka semua sama. Semua tampak seperti keluarga Yasmin yang merahasiakan kuburannya dariku. Mereka licik seperti keluargaku. Kelakuan burukku semakin bertambah, hingga suatu malam para pribumi itu murka dan mengejarku habis-habisan dengan berbagai senjata yang mereka miliki. Malam itu aku berlari sekencang mungkin. Begitu kencang hingga aku tak melihat sumur di hadapanku. Selanjutnya semuanya menjadi begitu gelap...."
Tanpa sadar Tara mendekapkan kedua telapak tangannya ke mulutnya.
"....lalu menjadi begitu terang kembali, dan mengambang bagai sebuah mimpi tak berawal dan tak berakhir. Dan inilah diriku sekarang."
*****
"Tapi untuk kamu, Tara, kamu nggak perlu takut. Aku yakin di suatu tempat di muka bumi ini, ada pria baik-baik yang lagi mati-matian mencari kamu. Mungkin juga kalian pernah saling berpapasan satu sama lain hanya saja tidak menyadarinya. Tapi yang pasti, kalau waktu yang tepat sudah tiba, aku yakin kalian bakal ketemu dan kebahagiaan akan jadi milik kalian berdua........."
*****
"Bila aku mencintaimu,
bahkan waktu pun takkan berkuasa 'tuk memupuskannya,
seperti halnya raga yang takkan berdaya 'tuk
memisahkannya.
Karena bila aku mencintaimu,
'kan kubuat para penjaga Surgawi menatap iri pada kesucian
nan abadi dari Cinta tak bersyarat yang kupersembahkan
hanya untukmu Kasih seorang"
*****
Ujung sapu lelaki tua itu kembali bergerak, menyapu jalan setapak itu tanpa lelah.
Daun-daun gugur itu pun kembali berdansa di ujungnya, menggodanya tanpa henti.
Mungkin memang begitulah seharusnya hidup ini. Jangan pernah berputus asa.
Sama halnya seperti lelaki tua dan sapunya itu, yang terus melawan daun-daun kering nakal yang menggodanya.
Sama halnya seperti Pieter dan Yasmin yang rela menunggu seratus tahun demi bersatunya cinta mereka kembali.
Tara kembali tersenyum bahagia. Di dalam hati ia berbisik pelan.
"So, goodbye, Pieter. Goodbye, Yasmin. May peace be with you both now...."
*****
Mbak Karla M. Nashar bener-bener mampu bikin cerita yang tadinya gw pikir cerita hantu apalah gitu jadi cerita yang bikin gw ngerasa touchy banget. Rupanya another love story, kind of Romeo and Juliet in different way. Konfliknya, juga lagi-lagi, nyangkut sama keluarga yang menentang hubungan mereka. So tragic, isn't it? Kenapa sih, mau cinta ama orang aja mesti seribet itu? Banyak larangannya, banyak aturannya. Ya gak selevel lah, ya gak pantes lah. Emang kenapa sih? Emang yang ngejalaninnya siapa? Orang mah boleh-boleh aja ngasi masukan, tapi jangan sampe ngelarang secara brutal gitu dong. Kan kesian kalo harus jadi kaya di Pieter, mesti nunggu 100th buat balik ke perjalanan awalnya setelah dia meninggal cuma gara-gara janjinya belom terpenuhi. Belom lagi di novel ini gw sempet kebawa banget sama perasaan 'Tara' yang bener-bener sebatang kara sebelom dia ngerti arti kehidupan yang sebenernya. Perjuangan hidupnya dia di tengah kejamnya kehidupan bikin salut aja. Udah gitu pas dia lagi klimaksnya ngerasa kesepian karena emang gak punya siapa-siapa, gak tau dia terlahir dari suku apa, gak tau asal-usul dirinya, dan perasaan sedihnya dia seakan-akan dia anak yang terlahir ga sengaja karena sebenarnya ga diharapkan. Berat juga itu mah kayanya kalo gw jadi begitu.. Hehe. Untung aja dia 'ketemu' arwahnya Pieter, yang uda nyemangatin dan terus ngasi nasehat-nasehat yang 'berat'. Tapi kayanya kalo gw jadi Tara, pertama-tama diwujudin si Pieter itu, kayanya gw bakal ngibrit deh. Ato mungkin step mendadak sesaat. Ato nyempet-nyempetin ayat kursi-an sedikit sebelom ambruk. Hahahaha.. Yah, over all, ini novel keren, meski ceritanya menurut gw agak kurang detail. Alurnya maju mundur, tapi bergerak cepet banget. Tapi yang utama, penulisnya yang bisa bangun sebuah kisah percintaan dilatar belakangin sama settingan sejarah kota Jakarta pas masih dikuasain para kompeni Belanda yang najong-najong itu.
Bikin gw jadi penasaran pengen ke Museum Fatahillah...
Bikin gw jadi penasaran sama detail: kaya apa sih Jakarta jaman dulu?
Uda ah.
Sampai jumpa kembali di resensi gw berikutnya. :)

14 Mei 2008

Huggy Huggy Buggy Buggy

Eh bokk tau ga sih, (dengan nada khas presenter-presenter gosip)
pagi-pagi gw bangun begini udah disuguhin sama videoklipnya andra n the backbone yang "main hati" itu. Beuhh, mupeng banget.. Huhu.
Jadi ceritanya ada cowo sama cewenya, lagi gatau ngapain, eh tiba-tiba tu cewe nya dipeluk dari belakang sama cowoknya. Tight baaangeeeeeettttttt...
Kayanya safe banget gitu dipeluk kaya gitu. Apalagi semua badan tu cowok bisa nutupin ceweknya sepenuhnya. Ekspresi cewenya juga kayanya nyaman senyaman-nyamannya gitu dipeluk tuh cowo. (Haha gw malah merhatiin yang gituan tapi ga ngerti jalan cerita di videoklipnya sendiri. Pinter kan gw?)

Hadooh.. Jadi inget obrolan gw ma anak-anak cewe di gramedia plangi.

3 Qili-qili: Eh eh liat tu ada cowo posturnya oke abis!
Gw: Mana?
3 Qili-qili: Itu tuh yang polo shirt marun!
Gw: Ouw.. Emang tinggi sih. Tapi ah biasa aja tau.
*fyi, rasanya gw lagi ga bisa bedain lawan jenis deh. Hehe.
3 Qili-qili: Ngga, bukan gitu.. Coba deh bayangin kalo dipeluk ma cowok kaya gitu pasti safe banget rasanya.
Gw: Hahah.. Dasar.. Gini nih efek pada jomblo kelamaan..

Yah, gitu tuh. Suka rada-rada ya emang?
Postur badan orang bisa jadi obrolan seru.. Hahaha.
Maap ya buat mas-mas yang ada di gramed plangi kalo kupingnya panas!

Btw,
Jadi pengen dipeluk.
Huahahuhuahahuahuau.. Kampret tuh videoklipnya andra!

Eh tapi emang bener loh, pelukan itu salah satu action paling dahsyat efeknya kalo seseorang lagi ga tenang.Kayanya tuh ngerasa aman, ngerasa nyaman, ngerasa ada yang jagain, te-o-pe be-ge-te deh..
Dan ini ga cuma buat cewe-cowo aja siy sebenernya.
Mungkin dipeluk sama temen juga bisa menghasilkan efek gitu juga, tapi ga sepenuhnya sama sih..
Hahahahhaaha layaknya pakar aja gueee ngoceh begini.
Ah uda ah, jadi makin mupeng ntar.
Oia, gw juga lagi doyan banget ngeliatin iklannya ponds yang tayangan medley-medley tentang kisah couple-couple gitu.
Backsoundnya si andra and the backbone juga, yg sempurna lagi.. Hadooh. Nih ya, sementara gw posting ini ada lagi nih iklan loh.
Keren banget!
Kok kayanya gw lagi metal abis ya? Gampang banget ngerasa touchy.. Oooouuuuwwwww..

Heh.. Udah udah.
Makin ga jelas ni masih pagi-pagi juga.
Harusnya kan gw siap-siap mandi gitu ato apa, eh malah bahas hal-hal beginian.. Hehehe.
Ciao*

Ayan, is A Normal Behaviour Too

Dooh, malem-malem gw ga bisa tidur.

Sepertinya mulai menjelma jadi kalong lieur lagi nih saya.



Enaknya topik malem ini bahas apa ya?

Gw lagi rada tertarik sama permasalahan sifat egoisnya cowo cewe deh.

Apalagi belakangan abis ngalamin hal ini sama temen-temen gw.



Sebenernya tuh gimana ya?

Cewe itu egoisnya gede banget. Sangat. Gw mengakui sekali.

Apalagi yang udah kepala batu macam saya ini. Duh, butuh lebih dari kesabaran normal manusia pada umumnya deh kayanya untuk ngadepin keegoisan gw.



Cewe, rata-rata maunya dingertiin. Dihargain.

Cowo, maunya juga dingertiin, tapi kadang mereka suka maksa kita harus ngertiin mereka dengan cara/aturan mainnya mereka itu. Padahal kan untuk solusinya ya kita harus sama-sama ngertiin dengan cara paling tepat, yang paling cocok sama kita masing-masing. Hal ini baru banget gw alamin. Temen-temen gw, cewe-cewe, lagi pada sensi sama anak-anak cowo karna satu dan lain hal yang akarnya tuh dari keegoisan cowo-cowo itu. Dan, emang gw akuin, cewe-cewe juga terlalu sensitif sih. Tapi ya itu bukannya memperjelas teori mars dan venus kan? Kita emang beda dalam cara berpikir dan faktor-faktor yang mendorong kita untuk mengambil suatu tindakan. Cowo tuh logic banget, cewe emosional banget.
Kadang gw ngerasa kok, cewe itu sering ga bisa ngertiin cowo. Tapi kadang juga gw ngerasain, kayanya gw udah segitu ngertiinnya deh. Kenapa justru gw jadi ga dingertiin? Terus-terusan aja dipaksa supaya mau ngargain dan ngertiin mereka. Huh..
Yah, balik ke topik masalah di antara temen-temen gw, inti masalahnya sih seperti itu kira-kira. Missedcomm, dan saling egois. Trus akhirnya diadain forum kelompok gitu demi kelanggengan kita bersama. Hahaha.. Apaan sih gw lebay sekaliyy..



Hasil akhir dari forum tersebut adalah: kita deal supaya saling ngertiin. Maksudnya ga se-standar itu sih. Jadi, yang cowo-cowo pada nurunin sedikit ego nya supaya yang cewe-cewe ga merasa ga dingertiin. And it works sampai hari ini pemirsa! Gw bahagia sekali tadi ngeliat perkembangan mereka, yang which is sesuai dengan omongan mereka sebelumnya supaya kita semua damai.. Hehe.. Gitu tuh, gw seneng banget kalo ngadepin orang-orang yang seperti itu. Saling pegang omongan yaa guys!



Then,

gw pengen buat confesssionnn.



Gw nyadar ego gw gede banget. Bahkan mungkin bisa ngelebihin ego nya laki-laki. Karena gw orang yang sangat tergantung pada feeling dan mood. Dan kalo udah terjebak dalem pemikiran-pemikiran yang rumitnya ngalahin rumus kalkulus, bisa-bisa perwujudan rasa emosi gw bisa merugikan pihak-pihak lain. Kalo gw udah begini, gw nyebut diri gw lagi ayan. Ok?

*tapi jujur sejujur-jujurnya, blom pernah gw berurusan ama orang lain soal sikap ayan gw yang satu ini. Mungkin cuma ke beberapa pihak tertentu yang sering berurusan ama saya tentang ini, dan maaaaaaaffff banget untuk itu.



Tapi, gw juga ga sembarangan kok kalo mau ber-ego ria. Pasti kaya gitu tuh ada yang mendukung. Dari segi apapun. Bahkan cuma karena gw mimpi parah plus serem banget aja bisa bikin mood gw jelek seharian. Kadang gw kecewa sama mimpi-mimpi buruk gw. Kenapa? Karena pernah di antaranya suka jadi nyata, atau merupakan kenyataan dari sebenarnya yang sebelumnya gw ga tau apa-apa. Kan mimpi itu bunga tidur yang ga mungkin kejadian kan? Huh.. Seballl.



Gw sebenarnya gampang kemakan perasaan sih, dan itu mungkin jadi faktor paling gede yang bikin ego setinggi himalaya gw keluar. Apalagi kalo udah dibikin curiga/penasaran akan sesuatu, beuhhhh.. Bisa mantap itu gw ber-investigasi ria. Cek sana-cek sini-tanya sana-tanya sini. Dan kalo udah kejedot, alias nemu fakta yang bikin hati pindah ke pankreas, jadi ngerasa goblok sendirian deh. Hahahahahaha sungguh calon detektif gagal ini kalo begini mah!



Hm, okey, pokonya, gw minta maaf sebesar-besarnya buat pihak-pihak yang pernah merasa gw rugikan kalo gw lagi bersikap ayan itu tadi ya. Sungguh tidak bermaksud saya..



Mungkin gw ga tau aja gimana cara ungkapin pemikiran gw nya dengan baik, dengan jelas. Yah, itulah. Kadang bahasa tulisan lebih kuat dan lebih mudah daripada bicara langsung. Kayanya sih begitu kalo menurut gw pribadi.



Yasudahlah, gw udah kebingungan mau ngoceh apalagi, dan entah gimana persepsi orang yang baca postingan gw ini.

Bagi yang bisa ngerti, selamat.

Bagi yang bingung, selamat bingung.


Fyi, gw lagi nyoba nulis cerita bersambung "Jangan Nangis, Bi" di blog gw ini, so far baru 3 part. Lalu silakan baca, namun jangan mikir itu nyata ya. Gw cuma lagi usaha ngeluarin kreatifitas. Ga lebih. No comment. (lho?)

*nite

si.nona.mojok.merenung

13 Mei 2008

Jangan Nangis, Bi (part 3)

"Tuhan..
Sampe kapan yah aku begini?
Sampe kapan semuanya kembali ke jalur yang normal?
Sepertinya ujianMu terlalu komplikasi untuk orang seperti aku yang gampang rapuh."
Gw capek begini terus.
Kaya ga ada masalah lain yang lebih baik untuk gw pikirin aja sih? Eh, tapi dimana-mana yang namanya masalah memang tidak pernah ada yang baik, bukan ya? Hehe.
Kalian mau tau kelanjutan mengenai priaku itu?
Masalah gw sama dia udah nggak terlalu gw pikirin.
Entah kenapa ya, tapi pas tadi gw denger pengalaman kenalan dekat gw gitu yang ternyata mempunyai pengalaman dan masalah yang jauh lebih berat dari gw, kayanya gw ngerasa belum ada apa-apanya dibandingkan dengan masalah dia.
You know,
yang namanya dikhianati itu tentu sangat menyakitkan, bukan? Nah, kenalan gw ini sudah menikah, dan yang menjadi masalahnya adalah perilaku suaminya yang sering semena-mena terhadapnya. Namun itu belum seberapa. Terakhir yang gw dengar, suaminya ingin menikah lagi.
Kronologis kejadiannya begini.
Sang suami tersebut berkenalan dengan seorang wanita yang sering jadi simpanan bos-bos kaya, lalu mereka terlibat affair dan sepertinya hubungan keduanya semakin serius hingga kini. Yang bikin gw sangat salut adalah: kenalan gw itu sangat-sangat-sangat-sangat tabah menerima semua penderitaannya itu. Meski dia udah lama tau tentang affair suaminya tersebut namun dia lebih milih untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya, dengan cara apapun. Yah.. gw kira hampir mirip lah dengan kasus Halimah-Bambang-Mayangsari. Hehe..
Yang saat ini gw pikirin, gw yang masih tahap pacaran aja udah segitu gilanya mikirin perasaan-perasaan gw, yang tentang priaku begini-begitu di belakang gw. Gimana dengan kenalan gw itu ya? Sudah pernah merasa hampir gila kah dia? Karena sepertinya permasalahan suaminya udah bukan sekedar perselingkuhan singkat, suaminya bahkan berniat menikahi wanita tidak beres itu. Wow.. Dipelet kah? Hehehe. Hush Bi.. Kamu jangan mikir jelek sekali aja kenapa sih?
Aku cuma bisa bilang, yang sabar ya Mbak..
Segala sesuatunya pasti udah direncanain sama yang Diatas..
Oia, gw juga mau cerita sedikit. Di kantor ada seorang pria, namanya Reno. Cuma karyawan bagian copywriter sih. Trus dia entah kenapa sering banget gw pergokin belakangan lagi ngeliatin gw terus. Tapi ya begitu. Dia cuma berani ngeliat gw dari jauh begitu. Sedangkan kalo gw senyum ke arahnya, dia segera buang muka ke arah lain karena malu kepergok lagi ngeliatin gw. Hehe.. Dulu sih dia sering becandain gw. Lelucon-leluconnya lumayan sering bikin gw ketawa geli. Tapi sebatas itu aja, selebihnya gw nggak pernah terlibat pembicaraan yang serius-serius dengannya tuh. Tapi belakangan gw ngerasa dia jadi agak jaga jarak sama gw. Kenapa ya? Dia juga udah jarang nyapa atau bahkan becandain gw lagi. Gw sih ngga masalah, lha wong pikiran gw belakangan lagi tersita buat mikirin masalah gw dengan priaku itu kok. Mana mungkin gw sanggup mikirin hal-hal lain di luar itu. Apalagi belakangan gw bener-bener lagi menjadi perempuan yang sangat tidak peka terhadap perasaan. Omongan gw ngelantur. Mood gw kadang naik kadang turun. Bengong adalah nama belakang gw (mungkin). Pokonya sedang tidak aman deh. Bahkan pernah gw ngerasa kaya udah gila, karena kadang pas gw lagi nyetir pulang dari kantor, bisa lho gw nangis sendiri tiba-tiba. Tapi setelahnya gw juga bisa ketawa tiba-tiba. Bener-bener sedang sedeng sepertinya.
Namun entah kenapa ya, dalam menghadapi priaku ini gw suka ngga bisa lama-lama marah sama dia. Tapi hal itu yang gw rasa mengendap, masalah yang belum tuntas dibahas sampai ke akar-akarnya, sehingga semua numpuk dan jadi rasa sakit di hati gw ini.
Tapi coba deh sekarang gw nanya sama kalian, gimana sih caranya ngilangin rasa parno, rasa curiga, kalo kalian udah merasa terlalu disakitin?
Bahkan segala kata-kata tulus, rasa sayang, dan cintanya seseorang terasa kaya gaung aja di hati. Ngga nyata.
Itu bener-bener masalah yang sepertinya lagi harus gw atasin deh.
Karena kalo ngga, lama-lama gila beneran deh gw.
Masa gw harus terus-terusan parno?
Tapi ngga salah kan gw begitu?
Gw bukan masalahin apa yang udah priaku itu lakuin. Itu udah urusan dia sama tuhan. Sekarang ini gw cuma lagi kejebak dalam perasaan gw sendiri. Perasaan dikecewain, perasaan dikhianatin, hanya demi kesenangannya dia semata. Gimana sih rasanya, kalo kalian tau pria-pria kalian diluaran sana juga memanjakan wanita lain dengan cara yang sama seperti pas dia lagi manjain kalian? Entah itu dengan kasih sayang, dengan materi, dengan daya tariknya, dengan janji-janjinya, dll. Apa kalian rela? Lantas harus gimana? Dan kalopun kalian pengen minta dia mengakui seluruh perbuatannya itu, apa kalian yakin dia ngga akan berbohong demi menjaga perasaan kita?
Itulah..
Itu yang lagi bikin gw serba gamang begini.
Emang bener sih kata salah satu temen gw, segala sesuatu emang harus dijaga dari awalnya. Tapi ga menutup kemungkinan juga untuk terus ngasih kesempatan, selama kita yakin bakal bawa hasil yang baik..
Lalu, apakah gw yakin?
xoxo,
Bianca

Jangan Menangis, Bi (part 2)

Hm..
Tadi aku cukup puas meski harus ngeliat Bianca dari kejauhan aja. Rasanya sungguh nggak enak sih, tapi apa boleh buat. Mungkin jalanku untuk menikmati kelembutan parasnya hanya sebatas ini, tidak boleh lebih. Aku tidak tau apa yang sedang dialami gadis itu. Tapi sepertinya ia sedang terguncang oleh suatu hal. Mungkin aku sok tau ya? Tapi jujur, tadi sempat kulihat sorotan mata cerianya hilang, digantikan dengan sorot mata yang menyiratkan kesedihan mendalam. Suaranya pun terdengar naik satu oktaf lebih melengking, dimana menurut pengetahuanku (yang sungguh cetek akan tanda-tanda psikologi seperti itu), aku merasakan bahwa intonasi suara gadis itu seperti histeris. Hal yang sudah sering kulihat terjadi padanya beberapa waktu belakangan ini.
Hufh.. Ada apa gerangan ya?
Aku pengen sekali bertanya lagi kepadanya, tapi kuyakin dia hanya akan menjawab, "Kan sudah kubilang tidak ada apa-apa, Ren.. Kamu gak usah cemas yah?"
Selalu saja begitu.
Kadang-kadang aku suka sakit hati melihat dia yang sepertinya tak pernah mempedulikan kehadiranku, tak pernah mengerti arti kehadiranku untuknya, tak pernah membiarkanku untuk memasuki kehidupannya lebih jauh lagi. Kami seakan terpisah oleh sebuah sungai yang tidak ada jembatannya, sehingga aku cuma harus cukup puas hanya dengan memperhatikannya dari seberang sini. Mungkin memang jalannya harus seperti ini ya? Aku benar-benar tulus menyayanginya, menyukainya, namun sepertinya pintu hatinya masih tersegel oleh sesuatu hal yang aku sendiri tak tau siapa atau apa yang menyegelnya. Petugas brengsek macam apa yang sudah menyegel hatinya hingga untuk menyentuh gagang pintu hatinya Bi pun sepertinya aku tak diberi kesempatan.
Kalau sudah begini rasanya jadi mau gila sendiri.
Memang, bagi Bi mungkin aku hanya sebatas teman pengisi hari-hari sepinya itu.
Tapi cobalah kalian lihat jauh ke dalam lubuk hati ini.
Sungguh aku ingin sekali memiliki gadis itu. Ingin sekali kurengkuh hatinya yang rapuh, lalu kujaga benar-benar agar tidak hancur lagi. Bukannya aku kepedean ya, tapi aku benar-benar tulus menyayanginya. Yah.. Meski terkadang beberapa sikapku juga sering mengecewakan Bi, sih. Tapi itu tidak masalah selama aku masih bisa melihat seorang Bianca bisa tulus tersenyum karena suatu kebodohan yang kubuat. Itu saja sudah cukup. Kalo lebih, kuanggap lah itu sebuah bonus dari Yang Diatas. Hehe.
Apa sebenarnya yang telah terjadi pada Bi ya?
Apa yang sudah merenggut hari-hari cerianya Bi ya?
Tadi saja, kulihat dia, kusapa dia, kuperhatikan dalam-dalam paras lembutnya (sekedar info, dia tetap sangat memukau di mataku meski sedang sendu seperti tadi itu), namun sepertinya ia sedang tidak fokus menatapku.
Tuhan.. Bahkan untuk menatap mukaku saja dia bisa tidak fokus!!
Dan yang lebih kusesalkan, mengapa aku harus melihat lagi raut mukanya yang sungguh terluka itu? Cara apa yang harus kuperbuat agar mata bulatnya Bi kembali bersinar lagi? Tolong beri aku bantuan..
Lalu apa yang harus kuperbuat sekarang? Kini yang bisa kulakukan hanyalah mengamatinya, mengawasinya, dan memperhatikannya dari jauh. Aku mungkin akan tetap menyemangatinya, entah dengan cara apa. Yang jelas aku pun akan terus berusaha agar aku bisa menarik Bi keluar dari lingkaran masalah yang telah membelenggunya itu.
Aku jadi sangat penasaran akan hal apa yang telah membuat bidadariku kehilangan cahayanya?
Regards,
Reno

12 Mei 2008

Today's Highlights

  1. Sebelom kampus krimbatan bareng nduty.. Kepala gw abis dibejek-bejek tapi maknyos banget rasanya. Kayanya semua pikiran juga untuk sementara ikut kebejek-bejek sama tangannya si mas-mas itu deh. Tengkyu mas!

  2. Nyampe kampus telat (banget!), but it's really-really okay, lalu dengan cueknya gw duduk paling depan, sampe-sampe mungkin bisa maen cilukbaa sama si dosen. Fyi, dosennya Pak Tommi guanteng tenan.. Which is gw ga bakalan nolak sekaliyy maen cilukbaa'an ma beliau. :D Uda gitu dengan pedeh-sepedeh-pedehnya gw he'euh-he'euh sok ngerti aja gitu padahal dateng kan telat banget. Hihi..

  3. Pas waktu break, si cokicoki bikin terharu, dengan ngintilin kita-kita kemana-mana ternyata ga jadi pada makan. Haha sukur lo cok...

  4. Pas balik kampus, dimulailah forum kelompok gw. Seru tenan.. Untung semuanya pada pake kepala dingin, dan untungnya juga si lelaki-lelaki dodol itu pada mau nerima apa yang kita, cewe-cewe, keluhkan. Huh, awas aja kalo mereka ga terima. Cilaka 13 kalian.. (beginilah kalo berani main-main ama wanita.. muahahahhahhaa)

  5. Otw balik, gw nebeng Dodo, bareng bodyguard-bodyguard semprul gw lainnya itu. Trus sepanjang jalan kita berempat karokean lagu-lagu MEllotoTAL-nya si Dodo. Lumayan lah. Dan teman-temanku itu baik sekali pemirsa.. Mereka mau nganterin gw sampe persiisss depan RS Harapan Bunda, which is emak bapak gw uda nungguin disana. Tengkyu kawan!

  6. Sebelom nyampe rumah seutuhnya, gw bersama emak bapak belanja belinji bentar ke Makro (sodaranya sukro) deket situ. Pas lagi belanja sempet ngebahas bluwek lagi.. (hiksz)

  7. Setelah nyampe rumah malem ini gw merasa tepar. Kayanya cape aja gitu padahal masi capean pas gw gawe kemarenan.. Entah lah ada apa ini. Yang cape batin ato raga nya yaa? Hahaa.


Sekian, dan terima kasih.



*nite



si.nona.kepalanya.lagi.ketarik-tarik.

Jangan Nangis, Bi

Ah..
Lagi-lagi mimpi itu lagi.
Ini masih subuh dan tidurku harus terganggu karena mimpi itu.
Huh.. Kenapa sih harus dia terus yang dateng ke mimpiku? Please, aku udah cukup sakit hati tanpa harus melihat kamu di mimpi-mimpiku. Jangan ge-er ya, mungkin kamu ngerasa aku segitunya mikirin kamu sampe-sampe kamu kebawa di mimpiku itu. Ngga gitu. Dibilang mikirin kamu, iya aku emang mikirin kamu. Mikirin betapa kamu tuh uda buat aku sakit hati banget. Banget. Banget. Aku sendiri ga tau ngobatinnya pake apa. Congratz ya..

Mungkin, kamu ga pernah nyadarin bahwa kamu udah bikin aku sakit.
Mungkin, kamu yang mikir kalo aku yang bikin kamu sakit hati.
Mungkin, kamu ga pernah mikir kalo suatu saat aku bakal tau apa aja yang udah kamu perbuat di belakangku.
Dan mungkin, kamu ga pernah tau rasanya kehilangan, sebelum kamu benar-benar kehilangan. Aku memang masih disini, tapi ngga menutup kemungkinan suatu saat aku akan hilang betulan kan? You choose.
Dan mungkin, saat kamu menyakiti aku, kamu memang ga sadar, tapi aku yakin, sangat yakin, kalo kamu merasa senang disaat melakukannya.

Aku sudah.
Aku udah ngerasain yang namanya kehilangan sesuatu yang sangat vital buatku, dan itu karena kamu.
Kurasa juga kamu tau akan hal itu.
Tapi aku ga peduli. Hatiku udah terlalu sakit buat punya rasa peduli akan hal itu.
Aku bener-bener ga tau kini harus gimana.
Kalo dibilang cinta itu bisa bikin kamu hancur, mungkin akulah salah satu orang yang sedang mengalami itu.
Aku merasa hancur, ga tau apakah masih ada perasaan di hatiku.
Di saat aku ingin belajar untuk mencinta lagi, saat itu juga perasaannya padam lagi.
Sehingga yang kurasakan hanyalah kesemuan belaka.
No passion at all.

Ada satu yang benar-benar mengganjal pikiranku.
Benarkah dia pernah tidur dengan perempuan lain?
Hal itu terlalu menyakitkan untuk dipikirkan..
Mana buktinya dia selalu bilang setia kepadaku? Hanya aku satu-satunya perempuan di hatinya? Hanya aku yang selalu dia nantikan, dia jaga? Dan akhirnya semua niatnya itu dapat membuat aku menabung harapan yang cukup tinggi kepadanya? Mana??
Hingga untuk menahan nafsu biologisnya yang satu itu pun sepertinya dia tak mampu. Bukannya aku menuduh yang tidak-tidak. Kalian percaya kan bahwa feeling wanita itu sangat kuat? Pertama, aku memang tipe orang yang sangat mempercayai kekuatan feeling, dan feelingku entah kenapa merasa ada yang tidak beres dengan kekasihku itu. Semenjak dia kembali dari luar kota, dia jadi punya kenalan banyak wanita, dan di antaranya, ehm, sepertinya bukan wanita baik-baik. Lalu kedua, yah, aku hanya mendengar selentingan-selentingan kabar, dan bahkan mencari tau sendiri (pada akhirnya), dan agak curiga dengan apa yang sudah diperbuat kekasihku itu selama dia ada di luar kota. Belum lagi lingkungan pergaulannya yang sepertinya menghalalkan apapun yang kuanggap sebaliknya.

Hufh..
Tuh kan sepertinya aku berpikiran negatif lagi.
Habis mau gimana, aku udah terlalu sakit hati sih.
Salahku sendiri mungkin ya, terlalu menyayangi orang itu hingga melupakan kodratnya sebagai laki-laki.
Eh, tapi bukan bermaksud menyindir lelaki lho ya, aku cuma bicara menurut pengalamanku aja.
Yasudahlah, sepertinya hari juga udah semakin pagi, matahari semakin tinggi, dan si Mbak di bawah sepertinya udah mulai menyiapkan sarapan untukku. Lebih baik aku mandi sekarang dan bersiap berangkat kerja bila tidak mau mati terjebak macetnya jalanan di Jakarta ini. Next time aku mungkin akan berkeluh kesah lagi deh tentang priaku itu.


xoxo,
Bianca

11 Mei 2008

Lagi-lagi On Lagi

Wheew.
Selalu deh. Uda dari kapan tauk nih posting blog terakhir itu. Hm, tapi kayanya belakangan gw bakal sering posting nih. Entah mengapa pikiran lagi banyak banged dan gw curiga nanti kepala gw bisa meledak sewaktu-waktu (jedorrrr..) kalo gw ga cepet-cepet share yg ada di dalemnya.
Sungguh bahaya sekali bukan bila kalian ngeliat otak bermuncratan dari kepala gw?
Malem ini, kembali dengan resmi, saya nyatakan kalo blog saya ini bakal saya sentuh lagi, saya jamah lagi. Sepertinya saya uda bosen jamah orang. Seruan jamah blog. (lho?)
*tapi paling nanti berikut-berikutnya blog gw off lama lagi. Trus di-on-in lagi. Haha klise lu Tan..*
Ehm, anyway,
Gw sejujurnya ga tau pengin nulis apa malem ini yg pas buat blog pembukaan gw lagi. Tadinya sih pengin nulis di blog frenster, tapi kayanya fulgar betul deh ah. Frenster kan sumber berita dan publikasi buat beberapa orang. Jadi mending gw ber'mehe-mehe' disini aja. Aman cing. (Kayanya sih aman ;p)
Hm, fyi (for your insting), iya, gw pasti lagi sutrisno kalo mau mulai posting lagi. Pasti deh. Sok aja diliat. Ya ntah gw lagi gundah gulana lah, lagi gelisah lah, lagi sembelit lah.. Pasti deh bawaannya pengeeeen banget nge-blog. Hebat kali kau blog! Rela jadi tempat sampah tanpa pamrih. Hehe.
Yah.. Gw lagi ngerasa gamang sekarang-sekarang ini.
Lalu apakah gamang itu sodaraan ama siamang?
Ntah lah, dan sungguh gak penting untuk dipikirkan.
Kayanya tuh gimana ya, serba bingung aja gitu. Mau maju, mundur, belok kanan, belok kiri, balik kanan, balik kiri (yang ini ga ada dan ga pernah bakal ada), serong kanan, serong kiri, SUSAH. Hehe. Macem gw lagi belajar baris aja ya. Pokoknya gitu.. Lagi ga mau bisa ngapa-ngapain. Huh.. Sambel! Kan kesian orang-orang diluaran sana yang pada mikirin gw yang sungguh-sungguh membingungkan sekarang-sekarang ini.. Maaf yah.. Tapi saya ga bermaksud membuat siapa-siapa pun jadi rempong karena saya.. Suer deh. Emang gw nya aja yang lagi lieur..
Ah, gw yakin ni yang baca postingan ini juga pada ga bakal ngerti sebenernya apa yang gw bahas. Soalnya setelah gw baca ulang kok tulisan gw ini makin kaya teka-teki silang berharga seceng yang dijual abang-abang gitu ya? Alias ga nyambung dan makin ribet gitu omongannya.
Hahahahhaha sudah lah. Ga usah dilanjutin deh. Besok-besok lagi aja.
:: Mungkin gw bakal rajin onlen tiap Sabtu.. Kan enak gratisan pake internet kantor.. (kan sekarang si tatan udah kerja..) Yuhuu.
*nite
si.nona.sedang.tenggelem (blup..blup..)